Asal Mula Baju Bangkok Flipersshop Merdeka.com

Baju Bangkok Merdeka.com

Baju Bangkok Merdeka.com

Merdeka.com – Inspirasi memang bisa datang dari mana saja, bahkan dari sesuatu yang biasa-biasa saja. Ini sepertinya yang dialami oleh Elyzabeth Ratna Dewi.
“Saya dapat nama ‘flipers’ dari suami saya. Dia hobi main game online dengan nickname itu. Menurutnya, nickname itu langka dan unik,” terang owner FlipersShop ini.
Kemudian, lanjut wanita kelahiran 8 April ini, ditambahkannya kata ‘shop’, dan didapatlah frasa ‘FlipersShop’.
“Banyak customer yang bilang nama itu cukup unik. Mereka kira lumba-lumba flippers. Namanya juga terdengar catchy,” lanjut Elyzabeth sambil tertawa.
Sebenarnya, FlipersShop ini dirintis untuk mengisi waktu senggangnya. Tetapi, karena basic fashionnya yang kental, Elyzabeth pun terjun menekuni bisnis online ini.
“Awalnya, saya hanya menjual produk fashion dan aksesori dari Hong Kong dan Korea melalui media sosial saja. Nah, ketika keluarga besar berlibur ke Bangkok, saya melihat banyak sekali model baju yang kualitasnya tidak kalah dengan buatan China atau Hong Kong. Akhirnya, pada Desember 2011, saya menjual produk fashion dari Hong Kong dan Bangkok,” ceritanya.
Untuk memasarkan produknya, Elyzabeth dibantu sang suami yang kebetulan bekerja di bidang SEO. Selain itu, ia juga sesering mungkin merilis produk terbaru miliknya melalui akun media sosial.
“Dulu kami hanya berdua menjalankan bisnis ini. Tetapi sekarang, sudah ada beberapa karyawan yang membantu,” imbuhnya.

pemilik flipersshop

Pemilik / Owner Flipersshop

Elyzabeth dan Dennis, Owner / Pemilik FlipersShop

Ia menambahkan, produk yang dijualnya sebisa mungkin berbeda dengan online shop sejenis, baik dari segi kualitas maupun modelnya. Sementara soal harga, Elyzabeth mengaku sebisa mungkin ia buat dengan harga terjangkau dan mampu bersaing dengan toko lain.
“Yang pasti, saya mengikuti Dollar, karena nilai tukar Rupiah ke Bath (mata uang Thailand,red) tidak selalu sama. Sebisa mungkin dibuat terjangkau, karena kami juga fokus ke reseller dan toko. Pokoknya, sepantas mungkin untuk reseller,” lanjut wanita ramah ini.
Saat ini, FlipersShop telah merangkul banyak pelanggan. Semua tersebar di penjuru Nusantara.
“Kebanyakan, pelanggan kami reseller, karena target kami memang jadi supplier yang besar. Kalau kuantitas naik terus, harga pasti akan kami tekan semurah mungkin,” urainya.
Dengan pelanggan sebanyak itu, otomatis omzet yang dihasilkan juga mencapai angka ratusan juta.
Kalau untuk produknya, dalam sebulan, kami bisa menjual minimal 1000 pcs ++. Tergantung permintaan juga, sih. Kadang juga bisa sampai overload”, jelasnya lagi.
Tetapi, seperti kebanyakan bisnis lainnya, Elyzabeth juga tak luput dari masalah, terutama ketika berhadapan dengan pelanggan.
“Wah, kalau masalah dengan pelanggan, banyak juga. Karakter customer kan juga bermacam-macam. Ada yang habis order, lalu kabur. Ada yang bayarnya cuma setengah, ada juga yang sengaja merusak baju. Alasannya juga macam-macam. Ada yang menyalahkan kami, karena mengirim barang yang sudah rusak. Ada yang beralasan dicopet, jadi bayarnya lama. Ada juga yang sampai sebulan lebih, baru komplain,” ceritanya.
Karena itu, ia dan tim berusaha untuk selalu berusaha sabar ketika menghadapi pelanggan. Selain itu, Elyzabeth juga tahu bahwa itu semua adalah risiko penjual.
“Karena banyak kejadian yang nggak mengenakkan itu, kami jadinya juga harus bisa bersikap tegas. Kalau tidak ada DP atau pelunasan barang, transaksi tidak akan kami proses,” jelasnya.
Untuk ke depannya sendiri, ia berharap FlipersShop miliknya bisa lebih berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Sebenarnya, untuk berbisnis seperti ini, yang utama adalah sabar dalam menghadapi customer. Jangan berharap yang muluk-muluk dulu. Kalau nggak sabar, biarpun produknya murah, pasti bakal ditinggal pelanggan,” pesan Elyzabeth.

Sumber: http://www.merdeka.com/gaya/dari-nickname-game-online-disulap-jadi-nama-online-shop.html

Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *